Rabu, 12 Oktober 2016

Sejarah Hotel Panghegar Yang Dilelang Rp 371 Miliar

Dahulu Hotel Panghegar yang berlokasi di Kota Bandung bernama Van Hengel. Van Hengel berdiri di Jalan Merdeka sejak1922. Pemiliknya saat itu seorang perempuan asal Italia bernama Anna Meister yg bersuamikan orang Belanda. Rumahgrafi - Warta Properti Daring

Hotel Van Hengel menjadi saksi sejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung di Gedung Merdeka, Kota Bandung 1955. Sejumlah tamu dan delegasi dari berbagai negara menginap di beberapa hotel yang salah satunya Hotel Van Hengel.

Era tahun 60-an, Nyonya Meister menjual hotel tersebut kepada salah satu karyawan kepercayaannya yaitu H.E.K Ruhiyat. Ruhiyat, pria kelahiran Sumedang 4 April 1923, itu mengawali kerja di Hotel Van Hengel sebagai petugas pembukuan perusahaan. Dia bergabung di tempat tersebut sekitar tahun 1943. Karier Ruhiyat moncer pada 1958 setelah menduduki jabatan manajer.

"Waktu itu (1960) Nyonya Meister kembali ke Italia karena alasan kesehatan. Nyonya Meister menyatakan tidak akan kembali ke Indonesia," ucap Direktur Hospitality Hotel Panghegar Hilwan Saleh saat berbincang bersama detikcom di Hotel Panghegar, Kota Bandung, Rabu (5/10/2016).

Hilwan berkisah, Nyonya Meister memercayakan penuh kepada Ruhiyat untuk mengelola hotel yang awalnya berupa bangunan menyerupai rumah atau pension. Aset tersebut begitu besar nilainya ketika zaman itu.

"Nyonya Meister meminta Pak Ruhiyat membeli hotel (Van Hengel)," ucap Hilwan.

Ruhiyat tak menyia-nyiakan tawaran terbaik itu. Terlebih Ruhiyat turut andil membesarkan nama hotel tersebut. Meski memang kala itu dia tidak memiliki uang tunai.

"Lalu Pak Ruhiyat membeli dengan cara mencicil," kata Hilwan.

Secara resmi proses pembelian mulai bergulir pada 1960. "Setelah itu Pa Ruhiyat membangun sedikit demi sedikit bangunan hotel," kata Hilwan.

Ruhiyat mengganti nama Van Hengel menjadi Panghegar pada 1960. Pengubahan nama hotel dilakukan karena ketidaksengajaan penyebutan oleh tentara Jepang yang sulit melafalkan Van Hengel menjadi 'Pang Hegaro'. Kemudian Ruhiyat mengganti kata dengan bahasa Sunda.

"Pang artinya 'Yang Membuat' dan Hegar bermakna 'Bersih dan Menyenangkan'," ujar Hilwan.

Sejak itulah hotel yang dikendalikan Ruhiyat mulai ditingkatkan kualitasnya menjadi standar nasional. Baru pada 1968, hotel direnovasi.

Seiring meningkatnya penghasilan hotel, Ruhiyat mampu melunasi cicilan pada 1970. Ruhiyat makin serius mengembangkan Hotel Panghegar. Ia mengelola usaha hotel dibantu istri tercinta, Siti Djuariah, dan tujuh anaknya.

Memasuki tahun 1984, Panghegar naik kelas menjadi hotel berbintang. Tahun itu juga Ruhiyat mendirikan Restoran Panyawangan yang mampu berputar 360 derajat yang diresmikan Menteri Pariwisata Achmad Taher. Restoran unik bertengger di atap hotel tersebut merupakan ikon fenomenal. Pada 5 Juni 1997, Restoran Panyawangan terdaftar di Museum Rekor Indonesia (MURI) lantaran dinilai sebagai restoran berputar pertama di Indonesia.

"Pak Ruhiyat merupakan tokoh perhotelan dan pariwisata di Indonesia, serta pencetus cikal bakal lahirnya Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Selain itu memprakasai berdirinya Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung yang lebih dikenal sebagai Bandung Heritage untuk melestarikan bangunan cagar budaya," tutur Hilwan.

Kegigihan Ruhiyat menuai hasil gemilang. Panghegar makin harum dan bersinar. Hotel ini dikenal luas di dalam dan luar negeri. "Menteri-menteri saat zaman Presiden Soeharto pernah menginap di Hotel Panghegar," ucap Hilwan.

Hingga kini Panghegar dicap sebagai salah satu hotel legendaris di Kota Bandung, bahkan Indonesia.
Sejarah Hotel Panghegar (Dok. Keluarga Ruhiyat)Sejarah Hotel Panghegar (Dok. Keluarga Ruhiyat)

Ruhiyat tutup usia pada 23 Mei 2009. Usianya saat itu 86 tahun. Jenazah Ruhiyat dikebumikan di pemakaman keluarga yang berlokasi di Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Selanjutnya tongkat estafet pengelolaan Hotel Panghegar dikendalikan anak-anak Ruhiyat.

Sosok putra daerah yang sukses sebagai pengusaha hotel melekat pada diri Ruhiyat. Kontribusi, prestasi dan jasanya dalam perkembangan perhotelan di Indonesia terus dikenang hingga kini